🎮 Kita Berpuasa Karena Takut Kepada Orang Tua
Ayatini memberitahukan kepada kita dua hal: Pertama: kehidupan Asaf selama ini. Dia berkata bahwa dia adalah orang yang mempertahankan hati bersih dan membasu tangannya tanda tak bersalah. Hati adalah bagian yang tidak kelihatan --batiniah, dia pertahankan bersih. Kedua: Tangan adalah simbol dari tingkah-laku yang kelihatan, itupun dia basuh
Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar." (An Nisa: 9)
Ayatini menegaskan kepada kita bahwa tauhid tidak akan sempurna kecuali dengan dua syarat, yaitu : sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang tua, dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan, Kami akan memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka, dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji
Apakahsaya harus bilang ke orang tua saya? Tetapi saya takut. 53 Jawaban. Terbaik. Shalahuddin Ahmad. Karena Kita Terlahir Di Zaman Dimana Orang Tua Kita Telah Ber-Agama. Saat Kita dan Ortu Kita Lahir, Sikonnya Juga Sama Sebagai Agama Keturunan Yang Mengikuti Orang Tua Kita(Dalam Hal Ini Kita Tidak Bisa Memilih Agama Saat Kita Dilahirkan
Cobabanyangkan ketika seorang anak melihat orang tuanya melakukan shalat malam dengan menangis karena takut kepada Allah SWT dengan membaca alqur'an. Berpuasa senin dan kamis, ikut serta dalam shalat berjama'ah di masjid, niscaya dia akan berfikir kenapa ayahnya menangis? jadi sebagai orang tua saya mengajak kita semua, jangan sampai
Laksanacerita ummat ummat terdahulu yang lupa, kita seperti dipaksa berbelok arah ke arah kebaikan. Puasa dan Covid 19 adalah cambuk sekaligus tali pengarah. Sesungguhnya kalau pandai berhitung
BerdasarkanQ.S Al-Isra' ayat 23 mengandung perintah untuk berbuat baik kepada orang tua dan jangan berperilaku Kuis bab menghormati dan menyayangi orang tua dan guru. tidak jadi mengerjakan tugas rumah karena takut dimarahi orang tua. kita harus berpuasa dalam bulan ramadhan. kita harus melaksanakan shalat lima waktu.
Sepertibiasanya, Ibu yang dateng membawa anak anak mereka juga, termasuk saya, datang dengan membawa 2 jagoan saya. Itupun sudah cukup membuat saya repot, karena gak enak juga yaaa, dirumah orang, saya gak mau, anak saya membuat ribut.
Mulaiberpuasa hanya sampai waktu Dhuhur, lalu sampai waktu Ashar dan kemudian jika sudah berumur 10 tahun akan mampu untuk berpuasa sehari penuh karena telah terlatih sebelumnya. Dan jika pada usia tersebut si anak tidak melaksanakannya, maka wajib atas orang tua untuk memukulnya, sehingga tatkala baligh nanti, dia akan takut untuk
. Oleh NURCHOLISH MADJIDIdul Fitri adalah hari raya kita semua, hari raya kemanusiaan universal, hari raya kesucian primordial manusia, hari raya fitrah, hari raya manusia sebagai makhluk yang hanif, makhluk yang merindukan kebenaran dan kebaikan, yang berbahagia karena kebenaran dan kebaikan. Hari raya puncak perolehan kerohanian kita setelah berpuasa selama sebulan, hari raya kembali ke fitrah, kesucian asal ciptaan Allah untuk manusia Id-u-l-Fithr-i. Kita kembali ke fitrah kesucian adalah atas bimbingan Allah, Tuhan Yang Maha Esa, melalui latihan menahan diri yang kita jalankan dengan penuh ketulusan, yang telah kita genapkan bilangannya selama sebulan. Maka, di hari ini kita kumandangkan takbir, tahmid, dan tahlil, sebagai pernyataan rasa syukur kita kepada Allah atas segala petunjuk-Nya itu. Hari raya puncak perolehan kerohanian kita setelah berpuasa selama sebulan Disebabkan oleh hakikatnya yang terkait langsung dengan ajaran dasar agama, maka hari raya ini adalah peristiwa yang amat sentral dalam kehidupan kaum beriman. Maka, marilah kita renungkan sejenak makna dan hakikat hari raya ini. Secara budaya keagamaan di negeri kita tercinta ini, dengan kedatangan hari raya kesucian manusia ini kita ucapkan Min al-'Aidin wal Faizin, semoga kita semua tergolong mereka yang kembali ke fitrah, dan berhasil tidak sia-sia menjalankan ibadah puasa. Karena, memang kembali ke fitrah itulah hasil dan wujud utama dari semangat takwa yang menjadi tujuan ibadah puasa. Tujuan itu terdapat secara umum dan universal pada semua manusia. Karena, itu setiap umat mempunyai cara sendiri dalam menjalankan ibadah puasa, sebagaimana kita umat Muhammad juga punya cara sendiri menjalankannya. Semuanya itu dengan tujuan membentuk manusia yang bertakwa. QS 2 183. Lalu apa makna dan hakikat takwa itu? Yang utama dan pertama ialah beriman kepada Allah dalam kegaiban, dalam keadaan kita tidak melihat-Nya dengan mata kepala kita, namun kita menyadari kehadiran-Nya dalam hidup kita. Takwa ialah kesadaran bahwa Allah beserta kita dimanapun kita berada, dan Allah itu Maha Tahu atas segala sesuatu yang kita perbuat. QS 57 4. Lalu apa makna dan hakikat takwa itu? Yang utama dan pertama ialah beriman kepada Allah dalam kegaiban. Menanamkan kesadaran akan kehadiran Tuhan dalam hidup itulah tujuan semua ibadah, dan hikmah seluruh ajaran Tuhan dalam semua kitab suci. Alquran menyebut dirinya sebagai kitab yang tiada keraguan di dalamnya, sebagai petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa, yang sifat pertamanya ialah beriman kepada kegaiban, atau beriman dalam kegaiban. Dalam Alquran juga disebutkan bahwa kitab-kitab suci sebelumnya, seperti yang diturunkan kepada Nabi Musa bersama Nabi Harun, adalah juga dengan tujuan menanamkan kesadaran orang-orang yang bertakwa, yang takut kepada Tuhan dalam kegaiban, dalam keadaan mereka tidak melihat-Nya namun sadar akan kehadiran-Nya, sama dengan tujuan Alquran. QS 21 48-50. Berdasarkan ajaran pokok itu, Alquran juga mengajarkan bahwa percobaan Allah berupa adanya godaan penyelewengan adalah untuk diketahui siapa yang takut kepada Allah dalam kegaiban, dan siapa yang tetap melanggar dalam kegaiban ini. QS 5 4. Beriman kepada Allah dalam kegaiban! Takut kepada Allah dalam keadaan kita tidak melihat-Nya, tapi kita menyadari akan kehadiran-Nya dalam semua kegiatan kita. Itulah takwa! Itulah tujuan kita berpuasa. Beriman kepada Allah dalam kegaiban! Takut kepada Allah dalam keadaan kita tidak melihat-Nya, tapi kita menyadari akan kehadiran-Nya dalam semua kegiatan kita. Maka, jika kita tidak dapat mencapai tujuan itu, dengan sendirinya puasa kita adalah sia-sia, adalah muspra tanpa guna. Kita berpuasa hanya mendapatkan derita lapar dan dahaga semata. Sebab, jika kita masih melanggar batas dalam kegaiban, maka sesungguhnya kita tidak beriman. Atau, paling tidak iman kita cacat, tidak sempurna. Nabi SAW mengajarkan bahwa orang tidak akan berbuat dosa selagi ia beriman. Atau, tidaklah orang beriman selagi ia menjalankan perbuatan dosa. Oleh karena itu, sepatutnya kita senantiasa merenungkan keadaan diri kita. Kita semua merasa diri kita sebagai kaum beriman. Tetapi, dalam kenyataannya acapkali kita tidak dapat menahan diri, kemudian tergoda melakukan dosa, padahal Allah senantiasa menyaksikan. Dalam pikiran kita selalu ada ancaman adanya momen, saat sekejap betapapun singkatnya, ketika kita lalai, bahkan ingkar, akan kehadiran Tuhan dalam hidup kita, bahwa Tuhan beserta kita dimanapun kita berada. Jadi, sesungguhnya kita kaum beriman ini senantiasa terancam kehilangan iman. Karena itu, Allah SWT tetap memperingatkan kita kaum beriman untuk beriman! Yaitu, beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, dan kepada ajaran Kitab Suci yang diturunkan kepada Rasul itu, serta kepada ajaran kitab-kitab suci yang diturunkan kepada para rasul sebelumnya. QS 4 136. Mengapa kita harus beriman kepada semua kitab suci dan semua nabi? Karena semua kitab suci dan semua nabi dan rasul mengajarkan ajaran yang sama. Semuanya mengajarkan beriman kepada Allah, menjalani hidup yang bersih, dan berbuat baik kepada sesama manusia. Mengapa kita harus beriman kepada semua kitab suci dan semua nabi? Karena semua kitab suci dan semua nabi dan rasul mengajarkan ajaran yang sama. Semua umat para nabi dan rasul adalah umat yang tunggal, dan semuanya harus bertakwa kepada Tuhan. "Wahai para rasul, makanlah kamu semua dan yang baik-baik, dan perbuatlah hal-hal yang baik. Sesungguhnya Aku Tuhan, mengetahui segala sesuatu yang kamu kerjakan. Dan sesungguhnya umat ini adalah umatmu sekalian, umat yang tunggal, dan Aku adalah Tuhanmu sekalian, maka bertakwalah kamu kepada-Ku." QS 23 51-52. Oleh karena itu, Rasul Allah Muhammad SAW menegaskan, "Kami golongan para nabi, agama kami adalah sama. Para nabi adalah bersaudara tunggal bapak lain ibu." Lebih jauh, Kitab Suci mengajarkan bahwa umat manusia adalah umat yang tunggal, yang kemudian saling berselisih yang dapat membawa kehancurannya. Namun, Allah tetap menunjukkan kasih-Nya kepada umat manusia sehingga tidak langsung menghukumnya atas dosa-dosa perselisihannya, untuk memberi kesempatan mereka bertobat. Lebih jauh, Kitab Suci mengajarkan bahwa umat manusia adalah umat yang tunggal. "Tidaklah manusia itu melainkan umat yang satu sama, kemudian mereka berselisih. Kalau tidaklah karena suatu ketetapan yang telah ada dari Tuhan-mu, pastilah telah diberi keputusan di antara mereka, tentang apa yang mereka perselisihkan itu." QS 10 19. Karena itu, dalam suasana hidup penuh kedamaian tidaklah berarti bahwa perbedaan sesama manusia akan lenyap. Perbedaan yang tidak hakiki akan selamanya tetap ada di antara manusia. Tetapi, dengan anugerah rahmat dan kasih Tuhan kepada manusia, perbedaan itu tidak akan membawa pertikaian, dan memang demikian itulah Allah menciptakan manusia. Perbedaan antara sesama manusia memang dapat menjadi pangkal perselisihan dan persengketaan sesama kita, kecuali jika ada anugerah rahmat kasih sayang Allah kepada kita. Sebaliknya, jika tiada anugerah rahmat kasih sayang Allah itu kepada kita, kemudian kita terus-menerus bersilang sengketa dan bertikai, maka itulah jaminan kita bakal hidup sengsara. QS 11 118-119. Maka, dengan rahmat Allah, perbedaan bukanlah suatu cacat atau kekurangan. Perbedaan akan membawa berkah dan hikmah karena dapat menjadi pendorong perlombaan antara kita menuju berbagai kebaikan. Perbedaan sesama manusia adalah kehendak dan rahasia Ilahi, dan kelak dalam alam akhirat setelah kita mati, barulah kita akan mendapat keterangan apa hakikatnya! QS 5 48. Maka, dengan rahmat Allah, perbedaan bukanlah suatu cacat atau kekurangan. Bagi sejumlah kalangan di antara kita, perbedaan lahiri antara berbagai golongan disalahpahami sebagai perbedaan hakiki. Maka bagi mereka itu, seperti halnya bagi kaum musyrik, sulit sekali memenuhi ajakan untuk tidak berpecah belah, untuk bersatu dalam ajaran-ajaran dasar kesucian dari Tuhan Yang Maha Esa. QS 42 13. Maka, karena persamaan dasar syariat agama semua nabi itu, Allah mengajarkan kepada kita sekalian agar beriman kepada semua kitab suci dan semua nabi, tanpa membeda-bedakan salah seorang pun dari antara mereka. Ajaran semua nabi itu sama, karena semua berasal dari Allah SWT, dan semua kembali kepada-Nya. QS 2 285. Karena itu, para penganut kitab suci dilarang bertikai dan bersilang dengan sesamanya, kecuali terhadap mereka yang zalim. Sebab, semua kitab suci mengajarkan ajaran yang sama, dan berasal dari Tuhan yang sama, Tuhan Yang Esa. QS 29 46. Memang dalam kenyataannya, perbedaan lahiri, perbedaan yang tidak hakiki, tidak semuanya dapat dihindari. Demikian itu, antara lain, karena adanya perbedaan latar belakang lingkungan kehidupan, baik lingkungan alam maupun lingkungan kemasyarakatan. Karena itu, para penganut kitab suci dilarang bertikai dan bersilang dengan sesamanya, kecuali terhadap mereka yang zalim. Tetapi, melalui kegiatan berlomba-lomba menuju kepada berbagai kebaikan al-khayrat, perbedaan yang ada akan justru membawa kepada hikmah rahmat Allah, karena menyediakan proses pembiakan silang untuk kuatnya pandangan dan wawasan Nabi SAW bersabda, "Perbedaan umatku adalah rahmat." Maka, manusia pun berbeda-beda dan terbagi-bagi menjadi berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, semuanya tercipta atas kehendak Allah, agar kita saling kenal dan saling hargai, bukan untuk menjadi alasan membagi-bagi manusia secara diskriminatif, dengan pembagian tinggi rendah yang tidak berdasarkan hasil kerja atau jasa kepada sesama manusia. Dalam pandangan Ilahi, manusia seluruhnya adalah sama, kecuali berdasarkan tingkat takwanya. QS 49 13. Orang yang bertakwa, yang sadar akan kehadiran dan pengawasan Tuhan dalam semua kegiatan dan kerja. Yang mampu mengendalikan diri, bebas dari bisikan yang jahat setan yang terkutuk, yang mendorong manusia kepada perbuatan dosa akibat keserakahan kepada harta dan nafsu berkuasa selamanya. Orang yang bertakwa, yang tahu batas larangan Tuhan, dan yang selamat dari jatuh martabat, terhindar dari dosa yang membawa malapetaka kepada masyarakat dan umat. Orang yang bertakwa, yang sadar akan kehadiran dan pengawasan Tuhan dalam semua kegiatan dan kerja. Marilah kita semua kembali kepada kesucian asal kita, kesucian fitrah yang hanif, yang dengan tulus mencari dan mengikuti kebenaran dan kebaikan. Marilah kita tanamkan takwa dalam diri kita, menyadari kehadiran Tuhan dan pengawasan-Nya dalam segala kegiatan. Marilah kita lawan godaan setan yang mendorong nafsu serakah, dan marilah kita tegakkan keadilan, demi kebahagiaan kita seluruh warga masyarakat dan negara tanpa perbedaan. Marilah kita galang persaudaraan antarumat, antarsuku bangsa, dan antarsesama manusia seluruhnya. Marilah kita wujudkan masyarakat dan negara yang tertib, aman, dan damai, yang membuat bahagia seluruh warga negara. Marilah kita wujudkan itu semua dengan iman, amal kebajikan, bebas dari syirik pemujaan kepada harta dan kekuasaan. Disadur dari Harian Republika edisi 28 November 2003. Nurcholish Madjid 1938-2005 adalah mantan rektor Universitas Paramadina. Ia salah satu budayawan dan pemikir Muslim paling berpengaruh di Indonesia.
kita berpuasa karena takut kepada orang tua